Jenang

JENANG-GRENDUL

Jenang adalah makanan khas daerah Indonesia yang memiliki beraneka ragam resep dan cara penyajian. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “jenang” memiliki banyak arti dan yang berhubungan dengan makanan diartikan sebagai ” 6je·nang n 1 bubur kental; 2 dodol; – sumsum bubur yg terbuat dr tepung beras dng santan dan diberi kuah gula jawa”. ( http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php)

Terdapat bermacam-macam jenang, diantaranya adalah :

– Jenang Candhil

– Jenang Abang

– Jenang Mancawarna

– Jenang Ireng

– Jenang Katul

( https://jv.wikipedia.org/wiki/Jenang )

1. Jenang Candhil

Bubur Sumsum Candil

Jenang Candhil atau “grendul” merupakan makanan tradisi khas Jawa yang sering disajikan dalam acara-acara formal maupun makanan kuliner bersama keluarga. Ada nilai eksentris yang terkandung di dalamnya, baik adat maupun budaya.

Jenang pada masyarakat Jawa khususnya Solo sudah mengakar sejak zaman Hindu. Tradisi jenang juga ada saat era Walisongo bahkan sampai masa kini. Jenang selalu hadir sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepadaNya. Dalam semua ritual selamatan masyarakat Jawa khususnya di wilayah Surakarta dan sekitar, makanan khas berupa jenang selalu hadir. ( http://www.antaranews.com/berita/420544/jenang-tradisi-yang-melekat-pada-masyarakat-jawa )

Jenang Candhil memiliki komposisi berupa tepung ketan berbentuk bulat dicampur dengan gula aren dan santan. Biasanya dipadukan dengan warna putih bubur sumsum yang berbahan baku tepung beras. Tekstur kenyal dan gurih dari campuran kedua jenis jenang ini memberikan cita rasa khas daerah yang alami dan elegan.

2. Jenang Abang

1702aha_kuliner_jenangabangputih-240x320

Jenang abang atau biasa disebut jenang sengkala oleh sebagian masyarakat Jawa, merupakan sebuah panganan yang erat kaitannya dengan upacara kepercayaan dan ritual adat. Ketika menyambut bulan baru dalam kalender Jawa yaitu bulan “Suro“, masyarakat membuat jenang dan dimakan bersama-sama sebagai ucapan rasa syukur (Selametan). Tak terkecuali acara selamatan yang ditujukan untuk wanita hamil ketika usia kandungan memasuki usia 7 bulan ( mitoni ), jenang abang memiliki peran tersendiri sebagai ikon masakan khas yang wajib disajikan.

Proses membuat jenang abang cukup mudah namun membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Langkah pertama yaitu mencampur tepung beras dengan sedikit garam dan santan cair secara merata. Campuran itu kemudian direbus di air mendidih, diaduk terus hingga mengental dan airnya meresap. Jenang sumsum disajikan bersama gula jawa cair dan santan. Bisa juga ditambahkan potongan pisang atau buah nangka. ( http://www.solopos.com/2012/02/18/makanan-tradisional-simbolisme-dalam-jenang-163587 )

3. Jenang Mancawarna

Jenang Mancawarna diambil dari bahasa Jawa “manca” = bermacam-macam, dan “warna” = warna, jenang Mancawarna dapat diartikan sebagai jenang yang memiliki macam-macam warna.

sesaji_tarub_08

Jenang mancawarna atau yang juga dikenal dengan nama jenang pepak ‘jenang lengkap’ merupakan salah satu nama jenang dalam sesaji selamatan  masyarakat Jawa. Empat warna dalam jenang tersebut memiliki makna semiotis antara lain bahwa seorang manusia hendaknya senantiasa menyadari dan menghargai perbedaan pemikiran para saudaranya yang berada di kiblat papat lima pancer ‘empat arah mata angin ;  timur, barat, utara, dan selatan’. ( http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/article/view/2953 )

4. Jenang Ireng

Jenang Ireng atau Jenang Hitam merupakan jenang yang terbuat dari ketan hitam dipadu dengan kuah santan segar dan wangi daun pandan. Biasa disajikan dalam acara adat dan tradisi dalam masyarakat, khususnya Jawa.

jenang-ketan-hitam

Selain itu terdapat jenang ireng lain yang terbuat dari tepung ketan dengan campuran santan dan gula aren. Biasanya disajikan dalam acara selametan pernikahan dalam adat Jawa.

OxaNvdiSol

( http://travel.kompas.com/read/2013/02/26/08241080/seribu.jenang.di.kota.solo )

5. Jenang Katul

img1145

Jenang Katul memiliki penampilan yang hampir mirip dengan Jenang Abang, namun terbuat dari tepung garut sehingga memiliki tekstur yang agak kasar. Disajikan dengan parutan kelapa dan gula merah pada acara-acara adat tertentu.

Demikian pembahasan singkat mengenai Jenang, apa Jenang khas daerahmu?

Salam Budaya Indonesia.

 

One thought on “Jenang

Leave a Reply to amsyad Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>